Ashabiyah

Jumat, 22 Januari 2010 , Posted by zam at 06.59


Ashabiyah

Apa yang terjadi ketika Khalid bin Walid, panglima yang sukses menggulung Romawi, tiba-tiba mendapat surat pemberhentian dari Khalifah Umar bin Khatab? Umar mengangkat Abu Ubaidah yang dipandang lebih cocok sebagai ''problem solver'' untuk daerah-daerah baru, sementara itu Khalid cocoknya sebagai ''solidarity maker'' untuk masa-masa genting.

Khalid tidak protes, somasi, atau bahkan mem-PTUN-kan Umar, meski dia diberhentikan tanpa kesalahan apa pun, juga bukan karena pensiun. Khalid juga tidak lalu memprovokasi pasukannya dengan isu suku, ras, dan antargolongan karena semua itu termasuk dalam ashabiyah.

Khalid, misalnya, tidak menuduh Umar memecatnya karena ingin menggantinya dengan orang yang masih keluarga, sedaerah asal, sealmamater atau hal-hal diskriminatif lainnya. Khalid juga tidak menebar isu bahwa Umar masih punya dendam masa muda atau Umar takut popularitas Khalid menyainginya.

Khalid mengakui kewenangan Umar sebagai amirul mukminin yang berhak mengangkat dan memberhentikan para pejabat. Khalid taat kepada khalifah selama khalifah tidak menyuruh maksiat. Yang pasti, Khalid ikut dalam barisan jihad bukan karena mengharap jabatan dari Umar, namun demi keridaan Allah SWT! ''Aku berjuang bukan untuk Umar, tetapi untuk Tuhannya Umar,'' kata Khalid. Ini hal yang sangat penting.

Penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah yang masih tergolong senior, walaupun ''Daftar Urut Kepangkatan''-nya beberapa tingkat di bawah Khalid merupakan suatu yang biasa. Rasulullah bahkan pernah mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima, membawahi sahabat-sahabat senior yang lain. Waktu itu usia Usamah belum 20 tahun! Jadi, Rasulullah menunjukkan bahwa seorang pemimpin diangkat sesuai dengan kapasitasnya, karakternya, serta segudang pertimbangan lain.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak tokoh dunia yang sudah menjadi tokoh pada usia 20-an, seperti Khalifah Harun al Rasyid, Muhammad al-Fatih penakluk Konstantinopel, Hasan al-Bana pendiri Ikhwanul Muslimin, Panglima Besar Jenderal Sudirman, sampai Bill Gates boss Microsoft. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa pengalaman, wawasan, kemampuan memberikan solusi, tidak selalu paralel dengan usia/senioritas. Pendek kata, seniorisme (pandangan bahwa senioritas itu jaminan kualitas) adalah mitos belaka!

Karena itu, bila seseorang pejabat senior diganti dengan suatu mekanisme yang sah, sudah seharusnya dia ''legowo'', tidak perlu membawa-bawa sentimen almamater, angkatan, korps, daerah asal, dan agama. Rasulullah bersabda, ''Barang siapa menyerukan ashabiyah, berjuang karena ashabiyah, atau mati karena ashabiyah, dia bukan bersamaku.''

Solidaritas ashabiyah adalah ikatan emosional yang sangat lemah. Isu ini sering dimanfaatkan untuk menggalang dukungan bagi kepentingan pribadi seseorang, dan bila kepentingan ini tercapai, bisa jadi para pendukungnya ini dilupakan! Inilah yang sering terjadi dalam fenomena politik negeri ini.

Memang ashabiyah hanya laku di kalangan yang kurang berpendidikan, yang daya kritisnya mati, atau memang punya kultur menjilat. Maraknya pejabat yang mengalami post-power-syndrom, sakit hati karena senioritasnya di era reformasi ini kurang laku, dan lalu meniupkan isu SARA, ini terkait erat dengan tingkat berpikir masyarakat kita yang memang masih "primitif".

Karena itu, marilah kita introspeksi, masihkah kita percaya pada mitos seniorisme dan mengandalkan ashabiyah? Bila ya, mari kita segera bertobat!



Currently have 0 komentar: