Lomba Blogg UII
Posted by J-Spot
on
Rabu, 03 Februari 2010
, under |
komentar (0)
Universitas Mana Ya yang Bagus Buat Gue…???
Itu pertanyaan yang pasti muncul di pikiran semua anak SMA atau bahkan anak SMP khususnya sih buat anak SMA yang bentar lagi mau LULUS.
Padahal dimanapun kita mencari ILMU asalkan kita punya niat yang benar plus semangat yang membara layaknya si JAGO MERAH yang membakar habis sebuah apartemen mewah…hehehe, tapi masalahnya sekarang banyak anak SMA yang pingin masuk ke PT (Perguruan Tinggi) yang berskualitas sangat alias lebih dan berkelas tentunya Cuma gara-gara Identitas Doank Ge To…!!
Universitas Mana Ya yang Bagus Buat Gue…???Itu pertanyaan yang pasti muncul di pikiran semua anak SMA atau bahkan anak SMP khususnya sih buat anak SMA yang bentar lagi mau LULUS.
Padahal dimanapun kita mencari ILMU asalkan kita punya niat yang benar plus semangat yang membara layaknya si JAGO MERAH yang membakar habis sebuah apartemen mewah…hehehe, tapi masalahnya sekarang banyak anak SMA yang pingin masuk ke PT (Perguruan Tinggi) yang berskualitas sangat alias lebih dan berkelas tentunya Cuma gara-gara Identitas Doank Ge To…!!
Itu pertanyaan yang pasti muncul di pikiran semua anak SMA atau bahkan anak SMP khususnya sih buat anak SMA yang bentar lagi mau LULUS.
Padahal dimanapun kita mencari ILMU asalkan kita punya niat yang benar plus semangat yang membara layaknya si JAGO MERAH yang membakar habis sebuah apartemen mewah…hehehe, tapi masalahnya sekarang banyak anak SMA yang pingin masuk ke PT (Perguruan Tinggi) yang berskualitas sangat alias lebih dan berkelas tentunya Cuma gara-gara Identitas Doank Ge To…!!
Contoh ni ya, misalnya ada temen loe yang nanya “ kuliah dimana loe…?? “
Buat loe yang masuk Universitas biasa atau bahkan di bawahnya alias ALAY…pasti bakal ngejawab dengan sedikit ragu atau bahkan loe malu buat jawab pertanyaan itu.
Tapi buat loe yang masuk ke Universitas yang Mantep alias yang berkualitas & berkelas loe pasti bakal ngejawab dengan tegas, santai plus rasa PD (percaya diri) yang luar biasa.
Nah buat loe yang ngerasa nggak PD karena kuliah di Universitas yang bisa di bilang kurang bergengsi…Come On Guys…JUST FORGET IT…
Nyadar donk…harusnya tuh loe pada bangga karena bisa masuk ke Universitas itu dengan Usaha loe sendiri, karena belom tentu temen loe yang masuk ke Universitas yang bergengsi & berkualitas itu masuk karena usaha sendiri. Jadi kita harus Husnudzan sama diri kita sendiri kalo ke orang lain sih waspada aja tapi jangan Suudzan …OK
Buat Loe loe yang masih bingung nentuin mau milih Universitas mana yang bagus buat Loe, nggak usah khawatir masih banyak jalan kayak kata pepatas “kegagalan adalah Enjoy yang tertunda” (ngasal)
Ini 10 besar Universitas terbaik di Indonesia menurut Webometrics Ranking of World Universities, Laboratorium Cybermetrics :
1. UGM (Universitas Gajah Mada)
2. ITB (Institut Teknologi Bandung)
3. UI (Universitas Indonesia)
4. UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)
5. UKRIP (Universitas Kristen Petra)
6. IPB (Institut Pertanian Bogor)
7. STT Telkom (Sekolah Tinggi Teknologi Telkom)
8. UBRA (Universitas Brawijaya)
9. UNGUD (Universitas Gunadarma)
10. ITS (Institut Sepuluh November)
Biasanya Sih Universitas yang di sebut di atas udah jadi Universitas Idaman banyak siswa terutama siswa SMA, tapi itu baru menurut Webometrics Ranking of World Universities kalo menurut gue 10 Universitas terbaik tuh yang Ini nih…:
1. UI (Universitas Indonesia)
2. UBRA (Universitas Brawijaya)
3. UGM (Universitas Gajah Mada)
4. ITS (Institut Teknologi Sepuluh November)
5. ITB (Institut Teknologi Bandung)
6. UII (Universitas Islam Indonesia)
7. UNISBA (Universitas Islam Bandung)
8. IPB (Institut Pertanian Bogor)
9. UNEJ (Universitas Negeri Jember)
10. STT Telkom
Itu Universitas terbaik menurut gue ( nggak wajib di ikutin Cuma buat contoh acuan aja dalam memilih Universitas )
Dan biasanya ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan kalo mau milih sebuah Universitas, diantaranya :
a. Gedung & Fasilitas
b. Lokasi Universitas & keadaan lingkungan sekitarnya
c. Biaya Pendidikan (paling penting nih..)
d. Ketertiban plus kebersihan tempatnya ( bersihkan sebagian dari Iman…betul nggak..?? hehhe)
e. Lihat prestasi, kualitas, n keberhasilan alumninya..( yang ni nggak wajib )
Tapi akhirnya dimanapun loe menuntut ilmu loe harus very optimis, full semangat, plus niat n tawakal dalam menuntut ilmu. jangan lupa…!! Karena itu semuanya demi masa depan loe yang cerah atau agak cerah juga nggak apa apa yang penting jangan suram..hehehe n semoga ilmu yang loe dapet bisa bermanfaat bagi semua umat manusia…AMIen..!!
IKHTIAR PLUS TAWAKAL ADALAH PENTING
DON’T FORGET IT …OK
That’s All n Thank you
Created By : Abdurrahman Jundi
Beri Aku Nasihat …
Posted by J-Spot
on
Selasa, 02 Februari 2010
, under |
komentar (0)
Pagi ini aku menerima sebuah pesan dalam telepon genggamku dari seorang sahabat, “Saudaraku, beri nasihat untukku hari ini …” Aku sempat tertegun membacanya, sambil menghela nafas kata-kata itu seperti menembus relung terdalam bathinku yang sedang berteriak keras, bahwa sejujurnya disaat ini akulah yang seharusnya lebih banyak mengirimkan pesan semacam itu kepada semua sahabat, saudaraku dimana saja.
Sungguh aneh rasanya jika ada orang yang enggan menerima nasihat, dan lebih aneh lagi jika ternyata ada orang yang gemar berkata-kata tanpa banyak menggunakan telinganya untuk mendengarkan orang lain. Dilihat dari struktur indera yang kita miliki, seharusnya setiap manusia sadar bahwa keberadaan dua telinga yang ditempatkan Allah di kanan dan kiri manusia agar dapat menangkap setiap pesan dan masukan lebih banyak. Bukan sebaliknya, menutup telinga rapat-rapat sementara membuka mulut dengan lebar sambil mengeluarkan banyak kata. Fitrah dan kodratnya demikian.
Pagi ini aku menerima sebuah pesan dalam telepon genggamku dari seorang sahabat, “Saudaraku, beri nasihat untukku hari ini …” Aku sempat tertegun membacanya, sambil menghela nafas kata-kata itu seperti menembus relung terdalam bathinku yang sedang berteriak keras, bahwa sejujurnya disaat ini akulah yang seharusnya lebih banyak mengirimkan pesan semacam itu kepada semua sahabat, saudaraku dimana saja.
Sungguh aneh rasanya jika ada orang yang enggan menerima nasihat, dan lebih aneh lagi jika ternyata ada orang yang gemar berkata-kata tanpa banyak menggunakan telinganya untuk mendengarkan orang lain. Dilihat dari struktur indera yang kita miliki, seharusnya setiap manusia sadar bahwa keberadaan dua telinga yang ditempatkan Allah di kanan dan kiri manusia agar dapat menangkap setiap pesan dan masukan lebih banyak. Bukan sebaliknya, menutup telinga rapat-rapat sementara membuka mulut dengan lebar sambil mengeluarkan banyak kata. Fitrah dan kodratnya demikian.
Allah ciptakan mulut dengan dua katup bibir yang bisa bergerak menutup dan membuka agar manusia bisa mengerti kapan waktunya diam dan kapan waktunya bicara. Dua bibir itu pula yang seharusnya mengontrol gerak lidah yang letaknya didalam rongga mulut. Sudah jelas, jika bibir tidak terbuka maka lidah pun tidak akan bergerak sehingga tak ada kata-kata yang keluar. Sedangkan Dia ciptakan sepasang telinga dengan cuping yang lebar tanpa kemampuan bergerak menutup dan selamanya terbuka. Tentu saja, karena Allah menginginkan kita terus menerus memasang telinga ini untuk mendengar, filterisasinya hanya ada di otak manusia yang menyeleksi apakah setiap pesan yang masuk akan diteruskan ke hati, mata da indera lainnya atau tidak.
Paul Madaule, Direktur The Listening Centre di Toronto dalam bukunya Earobics, mengatakan bahwa otak bekerja lebih cepat daripada lidah, dimana otak menerima masukan lebih banyak dari mendengar dan melihat (dua telinga dan dua mata). Ini menyadarkan kita, bahwa kecil kemungkinan orang belajar dari kata-katanya sendiri. Lagi pula biasanya lidah akan bekerja jika otak sudah menerima input dari indera yang lain. Tentu saja, jika ada orang yang berbicara tanpa bekal masukan dari otak (sebelumnya dari telinga dan mata), kita fahami bahwa apa yang keluar darinya tidak lebih dari sekedar bualan belaka, nyaris tanpa makna.
Di halaman lain buku tersebut, Paul malah menegaskan bahwa dengan mengefektifkan pendengaran, seseorang bisa mendapatkan energi baru, arah dan fokus untuk membantunya menemukan motivasi kuat dalam langkah-langkah selanjutnya. Sekali lagi kita mendapatkan pelajaran, bahwa jika mau disadari pada saat kita berbicara yang kita harapkan adalah orang lain memusatkan perhatiannya sehingga menemukan energi baru dari kata-kata yang kita keluarkan. Lalu kenapa tidak kita yang melakukan proses mendengar itu?
Oleh karenanya, kepada sahabat yang pagi ini mengirimkan SMS untuk meminta nasihat kepadaku, terus terang aku meminta, berlakulah adil kepada saudaramu ini. Bahwa sebenarnya saat ini aku yang jauh lebih memerlukan masukan, agar aku mendapatkan suntikan energi, arah dan motivasi yang lebih segar. Bukankah demikian perintah yang berbunyi dalam Surah Al Ashr, bahwa orang beriman hendaknya saling menasihati. Artinya, jika anda sudah sering mendapatkan nasihat dari saudara anda selama ini, adillah kepadanya dengan memberikan nasihat kepadanya. Tentu saja, ini bukan sekedar latihan bahwa kelak di akhirat mulut ini akan terkunci.
Sungguh aneh rasanya jika ada orang yang enggan menerima nasihat, dan lebih aneh lagi jika ternyata ada orang yang gemar berkata-kata tanpa banyak menggunakan telinganya untuk mendengarkan orang lain. Dilihat dari struktur indera yang kita miliki, seharusnya setiap manusia sadar bahwa keberadaan dua telinga yang ditempatkan Allah di kanan dan kiri manusia agar dapat menangkap setiap pesan dan masukan lebih banyak. Bukan sebaliknya, menutup telinga rapat-rapat sementara membuka mulut dengan lebar sambil mengeluarkan banyak kata. Fitrah dan kodratnya demikian.
Allah ciptakan mulut dengan dua katup bibir yang bisa bergerak menutup dan membuka agar manusia bisa mengerti kapan waktunya diam dan kapan waktunya bicara. Dua bibir itu pula yang seharusnya mengontrol gerak lidah yang letaknya didalam rongga mulut. Sudah jelas, jika bibir tidak terbuka maka lidah pun tidak akan bergerak sehingga tak ada kata-kata yang keluar. Sedangkan Dia ciptakan sepasang telinga dengan cuping yang lebar tanpa kemampuan bergerak menutup dan selamanya terbuka. Tentu saja, karena Allah menginginkan kita terus menerus memasang telinga ini untuk mendengar, filterisasinya hanya ada di otak manusia yang menyeleksi apakah setiap pesan yang masuk akan diteruskan ke hati, mata da indera lainnya atau tidak.
Paul Madaule, Direktur The Listening Centre di Toronto dalam bukunya Earobics, mengatakan bahwa otak bekerja lebih cepat daripada lidah, dimana otak menerima masukan lebih banyak dari mendengar dan melihat (dua telinga dan dua mata). Ini menyadarkan kita, bahwa kecil kemungkinan orang belajar dari kata-katanya sendiri. Lagi pula biasanya lidah akan bekerja jika otak sudah menerima input dari indera yang lain. Tentu saja, jika ada orang yang berbicara tanpa bekal masukan dari otak (sebelumnya dari telinga dan mata), kita fahami bahwa apa yang keluar darinya tidak lebih dari sekedar bualan belaka, nyaris tanpa makna.
Di halaman lain buku tersebut, Paul malah menegaskan bahwa dengan mengefektifkan pendengaran, seseorang bisa mendapatkan energi baru, arah dan fokus untuk membantunya menemukan motivasi kuat dalam langkah-langkah selanjutnya. Sekali lagi kita mendapatkan pelajaran, bahwa jika mau disadari pada saat kita berbicara yang kita harapkan adalah orang lain memusatkan perhatiannya sehingga menemukan energi baru dari kata-kata yang kita keluarkan. Lalu kenapa tidak kita yang melakukan proses mendengar itu?
Oleh karenanya, kepada sahabat yang pagi ini mengirimkan SMS untuk meminta nasihat kepadaku, terus terang aku meminta, berlakulah adil kepada saudaramu ini. Bahwa sebenarnya saat ini aku yang jauh lebih memerlukan masukan, agar aku mendapatkan suntikan energi, arah dan motivasi yang lebih segar. Bukankah demikian perintah yang berbunyi dalam Surah Al Ashr, bahwa orang beriman hendaknya saling menasihati. Artinya, jika anda sudah sering mendapatkan nasihat dari saudara anda selama ini, adillah kepadanya dengan memberikan nasihat kepadanya. Tentu saja, ini bukan sekedar latihan bahwa kelak di akhirat mulut ini akan terkunci.
Bandingkan Cinta Anda Dengan Cinta-Nya!
Posted by J-Spot
on , under |
komentar (0)
Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja."
Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.
Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi, sekali lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a'lam bishshowaab




